NANOAZZA FILES

ARABIC’S FILES ONLY

KARAKTERISTIK BAHASA ARAB DAN PENERAPANNYA


 

  1. Pendahuluan

Bahasa Arab adalah bahasa komunikasi yang dikenal erat hubungannya dengan agama Islam. Kedatangan Islam sebagai ajaran agama di suatu lingkungan masyarakat yang kemudian dianut sebagai pedoman hidupnya menuntut para pemeluknya untuk memahami bahasa Arab yang merupakan bahasa kitab suci ajaran Islam yaitu al-Qur’an dan al-Hadis Nabi Muhammad Saw. Hubungan yang sinergis antara bahasa Arab dan Islam, tidak lain karena al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang sekaligus juga melibatkan secara langsung atau tidak, tradisi kehidupan bangsa Arab sebagai basic umat Islam.

Sejarah mencatat bahwa bahasa Arab mulai menyebar keluar jazirah Arabia sejak abad I H. atau abad VII M mengikuti gerak maju penyebaran Islam.1 Penyebaran tersebut meliputi wilayah Byzantium di utara, wilayah Persia di timur, dan wilayah Afrika hingga Andalusia (Spanyol) di barat. Pada masa khilafah Islamiyah, bahasa Arab menjadi bahasa resmi yang berfungsi untuk sosialisai agama, budaya, administrasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Posisi strategis yang dimiliki bahasa Arab ini mengungguli semua bahasa berpengaruh lainnya yang telah ada sebelumnya yakni bahasa Yunani, Persia, Koptik, dan Syria.

Meskipun diketahui bahwa referensi tentang bagaimana bahasa Arab dapat tersosialisasi dengan baik di tengah masyarakat non Arab kurang memadai, namun fakta sejarah membuktikan bahwa adanya interaksi yang intens antara bangsa Arab dan masyarakat Eropa dalam pewarisan ilmu pengetahuan Yunani kuno, melalui transliterasi atau penerjemahan dari Yunani ke Arab, kemudian Arab ke Latin, sehingga dalam mengkaji teks-teks sastra, filsafat, fisika, kedokteran dan keagamaan memungkinkan terjadinya kesamaan tujuan belajar mengajar antar kedua bahasa tersebut. Maka dapat diduga, adanya cara belajar mengajar yang tidak lebih sama dengan cara belajar-mengajar bahasa Latin yang berlaku pada saat itu yaitu grammar translation method, sebagai metode pengajaran bahasa asing yang paling tertua sehingga tidak diketahui sejarah awal munculnya dan perkembangannya. Metode ini diprediksi lahir sejak orang merasa perlu untuk mempelajari bahasa asing. Ahmad Fuad Efendi2 berpendapat bahwa grammar translation method telah dipakai sejak kebangkitan Eropa pada abad XV walaupun penamaannya ini baru dikenal pada abad XIX M. Oleh karena itu, ia muncul tanpa landasan teoritis; baik secara linguistik, psikologis, maupun edukatif.3

 

  1. Karakteristik Universal Bahasa Arab

Secara etimologi, karakteristik berasal dari akar kata bahasa Inggris yaitu character yang berarti watak, sifat, ciri4. Kata characteristic berarti sifat yang khas atau ciri khas sesuatu5. Achmad Maulana6 mengartikan karakteristik dengan ciri khas, bentuk-bentuk watak dan tabiat individu, corak tingkah laku atau tanda khusus. Dalam istilah bahasa Arab, kata karakteristik dikenal dengan خصائص sebagai bentuk jamak dari خصوصيـة yang diartikan dengan kekhususan atau keistimewaan. Maka dapat dikatakan bahwa karakteristik bahasa Arab adalah bentuk watak dan ciri khas atau tanda-tanda khusus yang dimiliki bahasa Arab.

Pengetahuan tentang karakteristik bahasa Arab merupakan tuntutan yang harus dipahami oleh para pengajar bahasa Arab, karena pemahaman akan diskursus ini akan memudahkan mereka yang berkecimpung pada bidang pendidikan dan pengajaran bahasa Arab dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran. Tetapi perlu diperhatikan bahwa karakteristik bahasa Arab tidaklah identik dengan kesulitannya, karena dengan memiliki pengetahuan serta pemahaman tentang karakteristiknya, setidaknya akan tersingkap kelebihan-kelebihan yang ada pada tubuh bahasa Arab, dan menjadi aspek kemudahan yang menjadi pintu untuk membuka jalan bagi mereka yang ingin mempelajari dan mendalaminya.

Bahasa Arab memiliki karakteristik yang unik dan universal. Dikatakan unik karena bahasa Arab memiliki ciri khas yang membedakannya dengan bahasa lainnya, sedangkan universal berarti adanya kesamaan nilai antara bahasa Arab dengan bahasa lainnya. Karakteristik universalitas bahasa Arab antara lain dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Bahasa Arab memiliki gaya bahasa yang beragam, yang meliputi, 1) ragam sosial atau sosiolek yaitu ragam bahasa yang menunjukan stratifikasi sosial ekonomi penuturnya; 2) ragam geografis, ragam bahasa yang menunjukan letak geografis penutur antara satu daerah dengan daerah lain, sehingga melahirkan dialek yang beragam; 3) ragam idiolek yaitu ragam bahasa yang menunjukan integritas kepribadian setiap individu masyarakat (لهجة فردية).

  2. Bahasa Arab dapat diekspresikan secara lisan atau pun tulisan. Menurut Bloomfield bahasa lisan merupakan hakekat adanya suatu bahasa. Realitas ini dapat dipahami karena adanya bentang sejarah peradaban manusia terlihat jelas mereka pada umumnya berbahasa lisan meskipun diantara mereka tidak dapat menulis dan tidak mengenal lambang tulisan. Bahasa lisan sebagai system verbal lebih banyak dipakai oleh manusia dalam berkomunikasi antara satu dengan lainnya antar anggota masyarakat di lingkungannya. Hal ini dimaksudkan agar penyampaian pesan lebih cepat dipahami maknanya oleh masyarakat sasaran.

  3. Bahasa Arab memiliki system, aturan dan perangkat yang khas, antara lain bahasa Arab itu :

  1. Sistemik, bahasa yang memiliki system standard yang terdiri dari sejumlah sub-sub system (sub system tata bunyi, tata kata, kalimat, syntax, gramatikal, wacana dll.).

  2. Sistematis, artinya bahasa Arab juga memiliki aturan-aturan khusus, dimana masing-masing komponen sub system bahasa bekerja secara sinergis dan sesuai dengan fungsinya.

  3. Komplit, maksudnya bahasa itu memiliki semua perangkat yang dibutuhkan oleh masyarakat pemakai bahasa itu ketika digunakan untuk sebagai alat komunikasi dalam berinteraksi dan bersosialisasi antar mereka.

  1. Bahasa Arab memiliki sifat yang arbitrar dan simbolis. Arbitrar berarti mana suka, artinya tidak adanya hubungan rasional antara lambang verbal dengan acuannya. Kata dalam setiap bahasa merupakan lambing-lambang benda nyata, abstrak, gagasan, dan sebagainya. Dengan sifat simbolis yang dimiliki bahasa, manusia dapat mengabstraksikan berbagai pengalaman dan buah pikirannya tentang berbagai hal, termasuk hal-hal yang kelak akan dialaminya.

  2. Bahasa Arab berpotensi untuk berkembang, produktif dan kreatif. Hal ini terjadi karena perkembangan bahasa selalu mengikuti perkembangan peradaban manusia, sehingga muncul kata dan istilah-istilah bahasa baru yang digunakan untuk mengkomunikasikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang.

  3. Bahasa Arab merupakan fenomena individu dan fenomena sosial. Sebagai fenomena individu, bahasa merupakan ciri khas kemanuisaan. Ia bersifat insani karena hanya manusia yang mempunyai kemampuan berbahasa verbal. Adapun sebagai fenomena sosial, bahasa merupakan konvensi suatu masyarakat pemilik atau pemakai bahasa itu. Seseorang menggunakan bahasa sesuai norma-norma yang disepakati atau ditetapkan untuk bahasa tersebut. Kesepakatan disini maksudnya bukanlah kesepakatan formal sebagai hasil konferensi atau muktamar yang melibatkan anggota masyarakat luas. Kesepakatan yang dimaksudkan pada dasarnya merupakan kebiasaan yang berlangsung turun temurun dari nenek moyang, yang sifatnya mengikat dan harus diikuti oleh semua pengguna bahasa. Jika seseorang tidak mematuhi atau menyimpang dari kesepakatan bersama tersebut, maka bahasa yang dituturkannya tidak akan dipahami atau paling tidak akan dipahami secara menyimpang (misunderstanding) oleh orang lain dalam masyarakat yang sama.

  1. Penerapan Karakteristik Unik Bahasa Arab dalam Pengajaran Bahasa Arab bagi non Arab.

 

Pada bagian ini, penulis akan mengetengahkan beberapa ciri-ciri khusus bahasa Arab yang dianggap unik dan tidak dimiliki bahasa-bahasa lain di dunia, terutama bahasa Indonesia. Ciri-ciri khusus ini perlu diketahui oleh para pengajar bahasa agar memudahkannya dalam menyusun dan mengembangkan berbagai strategi pembelajaran bahasa, khususnya bagi non Arab. Ciri-ciri khusus tersebut dapat ditemui dalam aspek-aspek bahasa, sebagai berikut :7

  1. Aspek bunyi

Bahasa pada hakekatnya adanya bunyi, yaitu berupa gelombang udara yang keluar dari paru-paru melalui pipa suara dan melintasi organ-organ speech atau alat bunyi. Proses terjadinya bahasa apapun di dunia ini adalah sama. Maka tidak asing apabila ada beberapa bunyi bahasa yang hampir dimiliki oleh beberapa bahasa di dunia seperti bunyi m, n, l, k, dan s.

Bahasa Arab, sebagai salah satu rumpun bahasa Semit, memiliki ciri-ciri khusus dalam aspek bunyi yang tidak dimiliki bahasa lain, terutama bila dibandingkan dengan bahasa Indonesia atau bahasa-bhasa daerah yang banyak digunakan di seluruh pelosok tanah air Indonesia. Ciri-ciri khusus itu adalah :

  1. Vokal panjang dianggap sebagai fonem (أُو ، ِي ، أَ )

  2. Bunyi tenggorokan (أصوات الحلق), yaitu ح dan ع

  3. Bunyi tebal ( أصوات مطبقة), yaitu ض , ص , ط dan ظ .

  4. Tekanan bunyi dalam kata atau stress (النبر )

  5. Bunyi bilabial dental (شفوى أسنـانى ), yaitu ف

Dan untuk mengetahui dimana letak نبر dalam suatu kata, kita harus mengetahui jenis syllable atau suku kata dalam bahasa Arab. Ada lima macam syillable atau مقطع yang berlaku dalam bahasa Arab fusha, yaitu :

  1. cv ( ص ح ) seperti ب

  2. cvv ( ص ح ح ) seperti فـي

  3. cvc ( ص ح ص ) seperti خُلْ

  4. cvvc ( ص ح ح ص ) seperti عِيْنْ

  5. cvcc ( ص ح ص ص ) seperti بنت

Untuk menentukan letak نبر dalam suatu kata, para ahli berbeda pendapat. Sebagai contoh, menurut Ibrahim Anis, letak نبر (stress) dalam suatu kata bahasa Arab dapat dilihat dari macam atau jenis suku kata atau syllable paling akhir dari kata itu. Bila suku kata akhir itu berupa jenis keempat atau kelima ( cvvc atau cvcc ) maka disitulah letak nabr-nya. Contoh kata نستــعين dan مستــقر , nabr-nya ada pada suku kata عين dan قـرّ .

Apabila suku kata terakhir dari jenis keempat atau kelima, lihat suku kata sebelum akhir. Bila ia berupa jenis syllable kedua atau ketiga (cvv atau cvc), maka disitu letak nabr-nya. Contoh pada kata يستحيل dan استغـفر letak nabr-nya pada suku kata حي dan تغ .

Dan apabila suku kata sebelum akhir bukan dari jenis kedua atau ketiga, artinya jenis pertama, maka lihat kembali suku kata ketiga dari akhir, seperti pada kata جلس dan اجتمع .

Menurut Brockelmann (linguist Jerman), نبر (stress) dalam kata bahasa Arab bias diketahui dengan cara menelusuri jenis suku kata dari akhir suatu kata sampai awal. Kapan kita menemui suku kata atau مقطع panjang yaitu jenis kedua, ketiga, keempat atau kelima dalam kata itu, maka disitulah nabr-nya. Dan bila tidak ditemui مقطع panjang pada kata tersebut, berarti nabr-nya ada pada suku kata pertama dari depan dalam kata tersebut. Contoh :

  • يقاتل nabr-nya pada قا

  • يجتـمع nabr-nya pada يَجـ

  • جمع nabr-nya pada جـَ

Jadi perlu diingat bahwa nabr atau stress itu ada dalam bahasa Arab, meskipun meskipun bukan merupakan fonem yang membedakan arti.

 

 

  1. Aspek Kosakata

Ciri khas kedua yang dimiliki bahasa Arab adalah pola pembentukan kata yang sangat fleksibel, baik melalui derivasi (تصريف استـقاقى ) maupun dengan cara infleksi (تصريف إعرابـى ). Dengan melalui dua cara pembentukan kata ini, bahasa Arab menjadi sangat kaya sekali dengan kosakata. Misalnya dari akar kata علم , bila dikembangkan dengan cara اشتقاقى , maka akan menjadi :

  • عَلِم يَعلَم dan seterusnya (تصريف اصطلاحى ) = 10 kata

  • يعلِّم عَلّم dan seterusnya = 10 kata

  • أعلم يعلم dan seterusnya = 10 kata

  • تعلم يتعلم dan seterusnya = 10 kata

  • تعالم يتعالم dan seterusnya = 10 kata

  • يستعلماستعلم dan seterusnya = 10 kata

Dari masing-masing kata ini dapat lagi kembangkan dengan cara تصريف إعرابـى sehingga akan lebih memperkaya bahasa Arab. Dari kata علم saja akan menjadi ratusan kata. Bahkan menurut suatu penelitian, unsur bunyi yang ada pada suatu kata, meskipun urutan letaknya dalam kata tersebut berbeda akan mengandung arti dasar yang sama.

 

  1. Aspek Kalimat

  1. I’râb

Bahasa Arab adalah bahasa yang memiliki sistem i’râb terlengkap yang mungkin tidak dimiliki oleh bahasa lain. I’râb adalah perubahan bunyi akhir kata, baik berupa harakat atau pun berupa huruf sesuai dengan jabatan atau kedudukan kata dalam suatu kalimat. I’râb berfungsi untuk membedakan antara jabatan suatu kata dengan kata yang lain yang sekaligus dapat merubah pengertian kalimat tersebut.

Contoh :

  • هذا قاتلٌ أخى

  • هذا قاتلُ أخى

Dua kalimat itu sangat berbeda sekali artinya, hanya karena perbedaan bunyi akhir kata qâtil (قاتل ). Yang pertama dibaca tanwin dan yang kedua tidak dibaca tanwin (di-idlâfat-kan). Maka kalimat pertama berarti orang ini yang membunuh saudaraku, sedang kalimat kedua artinya orang ini adalah pembunuh saudaraku. Contoh lain adalah :

  • ما أحسنَ خالداً artinya alangkah baiknya si Khalid

  • ما أحسنُ خالدٍ artinya apa yang baik pada si Khalid ?

  • ما أحسنَ خالدٌ artinya apa yang diperbuat baik oleh si Khalid ?

 

  1. Jumlah Fi’liyyah dan Jumlah Ismiyyah

Komponen kalimat dalam bahasa apapun pada dasarnya sama, yaitu subyek, predikat dan obyek. Namun, yang berbeda antara satu bahasa dengan bahasa lainnya adalah struktur atau susunan (تركيب) kalimat itu. Pola kalimat sederhana dalam bahasa Arab adalah :

  • اسم + اسم

  • فعل + اسم

Sementara dalam bahasa Indonesia pola kalimatnya adalah :

  • KB + KB

  • KB + KK

Pola فعل + اسم dalam bahasa Arab sudah dianggap dua kalimat. Dari perbandingan itu, tampak bahwa pola فعل + اسم hanya dimiliki bahasa Arab. Meskipun kadang ada ungkapan bahasa dalam percakapan sehari-hari pola yang sama dengan ini ditemui dalam bahasa Indonesia seperti turun hujan, tetapi ungkapan itu biasanya didahului oleh keterangan waktu umpamanya tadi malam turun hujan.

  1. Muthâbaqah (Concord)

Ciri yang sangat menonjol dalam susunan kalimat bahasa Arab adalah diharuskannya muthâbaqah atau persesuaian antara beberapa bentuk kalimat. Misalnya harus ada Muthâbaqah antara mubtada’ dan khabar dalam hal ‘adad (mufrad, mutsannâ dan jama’) dan dalam jenis (mudzakkar dan muannats), harus ada Muthâbaqah antara maushûf dan shifat dalam hal ‘adad, jenis, i’râb (rafa’, nashb, jar), dan nakirah serta ma’rifah-nya. Begitu juga harus ada Muthâbaqah antara hâl dan shâhib al-hâl dalam ‘adad dan jenisnya.

 

  1. Aspek Huruf

Ciri yang Nampak dominan pada huruf-huruf bahasa Arab adalah :

  1. Bahasa Arab memiliki ragam huruf dalam penempatan susunan kata, yaitu ada huruf yang terpisah, ada bentuk huruf di awal kata, di tengah dan di akhir kata.

  2. Setiap satu huruf hanya melambangkan satu bunyi.

  3. Cara penulisan berbeda dengan penulisan huruf Latin, yakni dari arah kanan ke kiri.

Disamping itu, ada beberapa huruf yang tidak dibunyikan seperti pada kata-kata : أولئك الزكوة – أنا – لا، أنا طالب dan sebaliknya, ada beberapa bunyi yang tidak dilambangkan dalam bentuk huruf seperti هذا – ذلك – أنتَ ؟ .

 

Pemaparan beberapa karakteristik unik bahasa Arab di atas setidaknya dapat dijadikan acuan dalam pengajaran bahasa Arab untuk non Arab, sehingga memudahkan para pengajar dalam melaksanakan proses kegiatan pembelajaran bahasa Arab.

Secara kodrati, manusia pertama kali mengenal bahasa melalui pendengaran, setelah itu berbicara, membaca, kemudian menulis. Demikian pula halnya dengan pengajaran bahasa Arab, hendaknya harus dimulai dengan melatih anak untuk selalu mendengar bahasa Arab. Langkah pertama ini dapat dilakukan dengan memasukan anak ke dalam lingkungan bahasa Arab (البيئة اللغوية) atau ke dalam laboratotium bahasa. Guru dapat juga menciptakan ruang kelas dengan selalu aktif menggunakan bahasa Arab sebagai pengantarnya, hal ini akan menarik perhatian siswa untuk berbicara seperti gurunya dengan menyimak atau disebut dengan listening.

Tahap selanjutnya adalah bercakap-cakap atau speaking. Langkah kedua ini harus didukung oleh perbendaharaan kosakata yang dimiliki siswa. Guru jangan menyuruh siswa untuk menghafalkan kamus, tetapi guru bisa mengajarkan kata-kata yang dipakai sehari-hari sehingga dapat dipraktekkan anak didik baik di sekolah maupun di luar sekolah. Dalam pembelajaran bahasa Arab, cara ini disebut dengan muhâdatsah.8

Langkah selanjutnya adalah membaca (reading). Pada tahap ini siswa mulai diperkenalkan denganbacaan atau wacana bahasa Arab yang telah menggunakan gramatika yang benar. Penerjemahan kata atau wacana seminimal mungkin dilakukan oleh guru guna mendorong siswa untuk memahami teks tanpa membutuhkan penerjemahan secara utuh.

Setelah siswa memperoleh kemahiran membaca, maka tahap berikutnya yaitu menulis (writing) yang dalam bahasa Arab disebut insya’. Dengan berbekal hasil membaca berbagai wacana aatau bacaan yang baik, maka siswa perlahan-lahan dapat mengungkapkan pikirannya dalam sebuah tulisan. Dengan begitu maka empat kemahiran bahasa telah diperoleh siswa yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Kemahiran bahasa ini kelak akan dapat dijadikan sarana dalam mempelajari, mengkaji dan mengembangkan ilmu-ilmu yang lainnya pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan masyarakat luas.

 

  1. Penutup

Pengetahuan karakteristik suatu bahasa merupakan salah satu cara memasuki pintu gerbang pemahaman bahasa tersebut. Begitu juga halnya dengan bahasa Arab yang memiliki ciri dan kekhususan yang berbeda dan mungkin juga tidak dimiliki oleh bahasa lain di dunia. Hal ini sangat perlu diketahui oleh para pengajar bahasa Arab dari segala tingkatan dan jenjang pendidikan. Namun faktor penting yang tidak bisa dinafikan untuk mencapai keberhasilan pembelajaran bahasa Arab adanya sense of belonging yang harus ada pada diri setiap umat Islam pada bahasa Arab.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Ahmad Fuad Effendi, Metodologi Pengakaran Bahasa Arab, Malang: Misykat, 2004.

 

Amin Muhammad, al-Lughat al-‘Arabiyyah Ma’nâhâ wa Mabnâhâ, Mesir: Dâr el-Fikr, 1980.

 

John M. Echols, Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia, 2006.

 

 

Moh.Matsna HS, Diagnosis Kesulitan Belajar Bahasa Arab; makalah disampaikan pada Diklat Guru Bahasa Arab di SMU tanggal 10 – 23 September 2003 di Jakarta.

 

Maulana, Ahmad, dkk., Kamus Ilmiah Populer, Yogyakarta: Absolut, 2004.

 

Radliyah Zaenuddin dkk., Metodologi dan Strategi Alternatif Pembelajaran Bahasa Arab, Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group, 2005.

 

1 al-Fâruqy, dalam Radliyah Zaenuddin dkk., Metodologi dan Strategi Alternatif Pembelajaran Bahasa Arab (Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group, 2005), hlm. 2.

2Ahmad Fuad Effendi, Metodologi Pengakaran Bahasa Arab (Malang: Misykat, 2004), hlm. 31.

3 Abd al-‘Azîz bin Ibrâhîm al-‘Ashili, dalam Radliyah Zaenuddin dkk., Metodologi…hlm. 2.

4 John M.Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: PT. Gramedia, 2006), hlm. 107.

5 Ibid, hlm. 108.

6 Ahmad Maulana, dkk., Kamus Ilmiah Populer (Yogyakarta: Absolut, 2004), hlm. 202.

7 Moh. Matsna HS, Diagnosis Kesulitan Belajar Bahasa Arab; makalah disampaikan pada Diklat Guru Bahasa Arab di SMU tanggal 10 – 23 September 2003.

8 Amin Muhammad, al-Lughat al-‘Arabiyyah Ma’nâhâ wa Mabnâhâ (Mesir: Dâr el-Fikr, 1980), hlm. 57.

July 3, 2008 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: